Kantin Sekolah Mulai Jadi Perhatian

Perhatian, buka di jendela baru. PDFCetakE-mail

Minggu, 14 Maret 2010

Lebak, Kompas - Masalah pendidikan tidak hanya sebatas problem teknis. Namun, kesehatan anak dan ekonomi orangtua sering kali dapat menjadi kendala bagi peningkatan mutu pendidikan di Indonesia. Salah satu yang bisa dijangkau pengelola pendidikan adalah kantin sekolah.

”Itu sebabnya, makanan yang tersedia di kantin sekolah perlu diperhatikan soal asupan gizi dan kebersihannya,” ujar Sekretaris Jenderal Kementerian Pendidikan Nasional Dodi Nandika di Lebak ketika meninjau kantin sehat di SMPN I Rangkasbitung dan SDN Kompleks Multatuli, Muara Ciujung Barat, Rangkasbitung, Lebak.

Namun, faktanya, tak semua sekolah memiliki kantin. Penelitian tentang sekolah sehat yang dilakukan Pusat Pengembangan Kualitas Jasmani Departemen Pendidikan Nasional tahun 2007 menyebutkan, 40 persen dari 640 sekolah dasar di 20 provinsi yang diteliti belum memiliki kantin. Lebih menyedihkan lagi, 84,30 persen di antara sekolah yang punya kantin belum memenuhi syarat kesehatan.

Syarat kantin sehat di antaranya adalah lantainya bersih, ruangan memiliki ventilasi sehingga selalu ada udara segar, kondisi ruang yang terang, ada tempat sampah, dan tersedia keran air untuk mencuci tangan. Makanan atau minuman ringan kemasan yang dijual pun tidak boleh kedaluwarsa.

”Kue dan makanan yang dititipkan harus memenuhi syarat. Tidak boleh pakai pengawet dan pewarna yang bukan untuk makanan,” kata Sujatini, pengelola kantin sehat SMPN I Rangkasbitung.

Bagi Ita dan Nurul, keduanya siswi kelas VIII SMPN I Rangkasbitung, jajan di kantin sehat sekolah jadi pilihannya. Selain makanannya enak, tempatnya juga bersih. Namun, Farqi, teman Ita, terkadang jajan di penjaja makanan di dalam pagar sekolah.

”Di sini sudah ada kantin sehat, tetapi ada saja yang memilih jajan di luar,” kata Lilis, salah seorang pengurus kantin sehat di SDN Kompleks Multatuli.

Preferensi anak terhadap jajanan yang ingin dibeli memang sulit dibatasi.

Banyak faktor yang mendasari pilihan anak terhadap jajanan, di antaranya adalah soal selera, rasa, dan harga. Penuturan Wakil Kepala Sekolah SMPN I Rangkasbitung S Eko Setiono, pihak sekolah pun menyeleksi pedagang yang berjualan di dalam pagar kompleks sekolah. Ini dilakukan agar kualitas makanan yang dijajakan terjamin sehingga tidak membahayakan ketika dikonsumsi anak-anak. (CAS)

Sumber: Kompas.Cetak (14/3)