Artikel

 

Rokok vs Generasi Penerus Kita

Perhatian, buka di jendela baru. PDFCetakE-mail

Yk

ykai.net   Menurut WHO pada tahun 2008, Indonesia merupakan negara dengan jumlah perokok tertinggi ketiga di dunia setelah Cina dan India. Jumlah anak-anak usia 10-14 tahun yang menjadi perokok aktif pun bertambah menjadi dua kali lipat dalam 20 tahun terakhir, bahkan menjadi tiga kali lipat untuk anak-anak usia 5-9 tahun (NGO Lentera Anak). Selain itu, pada tahun 2010 jumlah prevalensi merokok naik sebanyak 3 kali lipat pada remaja laki-laki dan 5 kali lipat pada remaja perempuan dibandingkan pada tahun 1995 (Riskesdas, 2010). Data Kementerian Kesehatan menyatakan bahwa setiap tahunnya terdapat sebanyak hampir 4 juta anak di Indonesia yang berusia 10 hingga 14 tahun menjadi perokok. Ketergantungan rokok di kalangan usia muda telah mencapai tingkat yang mengkhawatirkan dan mendesak untuk segera dilakukan upaya penanganan serius.

Selanjutnya: Rokok vs Generasi Penerus Kita

 

Buku II Agenda Pembangunan Bidang RPJMN 2015-2019 Bidang Perlindungan Anak

Perhatian, buka di jendela baru. PDFCetakE-mail

Bidang Perlindungan Anak tertuang dalam Bab 2 Pembangunan Sosial Budaya dan Kehidupan Beragama.

Permasalahan dan Isu Strategis

Ada tiga isu strategis di Bidang Perlindungan Anak yang mendapatkan perhatian pemerintah yang tertuang dalam Buku 2 RPJMN 2015-2019. Pertama adalah Peningkatan Kualitas Hidup dan Tumbuh Kembang Anak yang Optimal - UUD 1945 pasal 28 B ayat 2 menyatakan bahwa setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh, dan berkembang serta perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi. 

Selanjutnya: Buku II Agenda Pembangunan Bidang RPJMN 2015-2019 Bidang Perlindungan Anak

 

Buku I Agenda Pembangunan Nasional RPJMN 2015-2019 Bidang Perlindungan Anak

Perhatian, buka di jendela baru. PDFCetakE-mail

Presiden Joko Widodo telah menerbitkan Peraturan Presiden Nomor 2 Tahun 2015 tentang RPJMN 2015-2019 pada 8 Januari 2015. Bidang Perlindungan Anak tertuang dalam Bab 6 Agenda Pembangunan Nasional dengan Sub-Bab 6.4 Memperkuat Kehadiran Negara dalam Melakukan Reformasi Sistem dan Penegakan Hukum yang Bebas dan Sub-Sub Bab 6.4.6 Melindungi Anak, Perempuan, dan Kelompok Marjinal, sebagai berikut:

Selanjutnya: Buku I Agenda Pembangunan Nasional RPJMN 2015-2019 Bidang Perlindungan Anak

   

Komite Hak Anak PBB Mendengarkan Laporan Indonesia mengenai Pelaksanaan Konvensi Hak Anak Periode Ketiga dan Keempat

Perhatian, buka di jendela baru. PDFCetakE-mail

Indonesia melaporkan pelaksanaan Konvensi Hak Anak periode ketiga dan keempat ke Komite Hak Anak di Jenewa, Swiss, 5 Juni 2014. Situasi penyampaian laporan dan tanya jawab dilaporkan melalui laman Office of the High Commissioner for Human Rights (6/6).

Linda Gumelar, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak sebagai pemimpin delegasi melaporkan bahwa Indonesia memiliki populasi terbesar keempat di dunia, sekitar sepertiganya adalah anak-anak. 

Selanjutnya: Komite Hak Anak PBB Mendengarkan Laporan Indonesia mengenai Pelaksanaan Konvensi Hak Anak Periode Ketiga dan Keempat

 

Saya yang Bertanggung Jawab

Perhatian, buka di jendela baru. PDFCetakE-mail

oleh: Hamid Patilima 

“Saya yang bertanggung jawab.” Kalimat ini tidak pernah terucap dan terdengar dari seorang pejabat di Indonesia. Mengapa? Sejak kecil anak-anak tidak pernah atau jarang terbiasa mendengarkan ucapan “Saya yang bertanggung jawab” atas kelalaian ini, baik itu dari orang tuanya maupun teman sebayanya. Sehingga jangan heran banyak pejabat, maupun orang tua, tidak terbiasa jujur dan secara lantang mengucapkan kata bertanggung jawab di depan publik, pada saat mereka  lalai dalam menjalankan peran dan tugasnya sebagai “Pejabat” maupun sebagai orang tua.

Selanjutnya: Saya yang Bertanggung Jawab

   

Halaman 1 dari 13