KEKERASAN SEKSUAL PADA ANAK JALANAN

Perhatian, buka di jendela baru. PDFCetakE-mail

Tata Sudrajat

Anak jalanan membuat berita lagi. Beberapa waktu lalu kelompok ini dikaitkan dengan bahaya AIDS, jauh sebelumnya coba dihubungkan pula dengan kemiskinan yang melahirkan premis; Keluarga miskin melahirkan anak jalanan, tetapi tidak semua anak jalanan berasal dari keluarga miskin.

Dimasa yang akan datang, tampaknya masyarakat akan dikejutkan lagi oleh keterkaitkan mereka dengan obat –obat terlarang, terkenanya mereka oleh virus HIV, berkembangnya sikap anti sosial, dan gaya hidup yang khas, yang selama ini baru berupa potensi. Semua itu tentu tidak diharapkan. Tetapi di Brazil, anak jalanan adalah bagian dari rantai jaringan narkotika, yang menyebabkan mereka “dihabisi”dijalan-jalan . Di Philipina dan Thailand, ancaman sodomi dan pembunuhan oleh kaum paedophilia (orang yang secara seksual tertarik pada anak) bukan berita baru lagi.

Sodomi, pembunuhan dan pelacuran anak-anak dibawah umur merupakan ancaman terhadap anak jalanan di seluruh dunia. Terkait dengan ini adalah penyebabnya virus HIV, karena sodomi dan pelacuran merupakan perilaku yang beresiko tinggi untuk penyebaran HIV. Jika merunut pada kondisi anak jalanan di negara lain, bukan hal yang mustahil akan terjadi pula di sini karena kondisinya yang tidak jauh berbeda Ada tiga karakteristik anak-anak jalanan. Pertama adalah anak-anak yang hidupdi jalanan. Kedua, anak-anak yang bekerja di jalanan, dan ketiga anak-anak yang rentan menjadi anak jalanan. Faktor-faktor yang membedakan karakteristik tersebut dapat dilihat pada tabel di bawah ini

Tabel Perbedaan Karaktersitik Anak Jalanan

Faktor                  Pembeda

 

Hidup Di jalanan

 

Bekerja Di jalanan

 

Rentan   Menjadi anak Jalanan

 

Lama di jalanan

 

      24 jam

 

     7-12 jam

 

         4-6 jam

 

Hubungan   

 Dengan keluarga

 

       Putus  

   hubungan

 

   Tidak teratur pulang ke rumah

 

     Masih tinggal 

  dengan orang tua

 

 Tempat tinggal

 

 Di jalanan

 

   Mengontrak   (bersama-sama)

 

  Bersama keluarga

 

Pendidikan

 

Tidak sekolah

 

   Tidak sekolah

 

     Masih sekolah

 

 

Tabel di atas memperlihatkan bahwa anak yang hidup di jalanan merupakan kelompok yang berisiko tinggi terhadap berbagai bahaya dibandingkan kelompok lain. Kelompok anak yang bekerja di jalanan relatif lebih aman karena umumnya mereka tinggal berkelompok dan sebagian bersama orang  tua dan warga sekampungnya di daerah kumuh di kota –kota. Mereka bisa saling mengontrol satu sama lainnya. Namun karena kebersamaan ini pula, gampang sekali tergerak pada perilaku negatif seperti pencurian, judi, seks dll. Perilaku itu sebagian menjadi kebiasaan mereka sebagai refreshing, Sudah menjadi kebiasaan mereka, uang mudah di dapat di jalan jika habis di meja judi.

Kelompok anak yang rentan menjadi anak jalanan lebih aman karena mereka hanya beberapa jam di jalanan, masih tinggal dengan orang tua dan masih sekolah. Ancaman mereka adalah pengaruh teman yang kuat yang bisa menyeret mereka lebih lama di jalan, meninggalkan rumah dan sekolah, dan memilih berkeliaran di jalan karena lebih banyak memberikan kebebasan dan kesenangan. Daya tarik ini dirasakan semakin kuat apabila di rumah hubungan dengan orang tua kurang harmonis, orang tua yang bekerja dari pagi sampai malam sehingga anak tidak terawasi, atau unsur eksploitasi dimana anak harus memberikan penghasilannya kepada orang tua, yang jika tidak maka akan menerima hukuman fisik.

Kehidupan di Jalanan

Sebagai kelompokyang berisiko tinggi, anak yang hidup di jalan berada 24 jam dan menggunakan semua fasilitas jalan untuk ruang hidup seperti tidur, mencari uang dan berhubungan sesama temannya. Mereka biasa tidur di taman, bangku-bangku penumpang, kolong jembatan , emperan toko dan tempat lain yang mereka angap aman. Mereka sebenarnya tidak bekerja serius, hanya kalau ingin makan saja dan umumnya dengan mengemis, mengamen minta sama temannya atau mencuri. Mereka tinggal berkelompok yang anggotanya saling membantu satu sama lainnya dalam urusan makan, mencari uang, bermain dindong, atau kencan dengan teman wanita. Kelompok ini memiliki ikatan sangat kuat dan ciri solidaritas yang tinggi, tetapi hubungan dengan kelompok lain sangat rapuh. Mereka mudah saja  berantem atau tersinggung seperti perebutan tempat mangkal atau lokasi mencari uang. Ciri-ciri mereka dalah liar, tertutup, tidak tergantung kepada orang lain, dan bebas. Mereka sangat mudah berpindah tempat dari kota yang satu ke kota yang lain. Kontrol orang tua tidak ada karena hubungan yang sudah terputus. Mereka mengembangkan gaya hidup sendiri untuk survive. Kebutuhan terhadap lembaga-lembaga formal yang semestinya menampung mereka seperti dirumah, sekolah dan kelompok bermain tidak lagi mereka dapatkan. Dengan gaya hidup itu mereka menganggap jalanan sebagai suatu lembaga yang membuatnya mersasa esksis. Oleh karena itu , kehidupan anak jalanan dianggap sebagai suatu dunia yang bisa berdiri sendiri dan dapat dibandingkan dengan dunia anak-anak normal lainnya. Karir dalam pekerjaan mereka juga jelas. Misalnya banyak para sopir bis atau taksi yang ketika, anak-anak sampai remaja adalah tukang semir, pencuci bis, kenek, kondektur, dan supir bajaj, pedagang informal pun banyak yang memulainya sejak anak-anak. Namun tidak sedikit pula yang menjadi preman, pencuri, atau penjahat. Seperti halnya sistem sekolah yang bergantung kepada kemampuan anak-anak, maka sistem jalanan demikian pula. Jika nilai positif yang banyak diserap maka ia akan menjadi orang yang tangguh karena telah terbiasa latihan keras dan kebal sejak anak-anak. Banyak pengusaha dan tokoh –tokoh masyarakat yang ditempa dijalanan. Sayangnya lebih benyak yang terpuruk ke perilaku negatif dan menjadi korban, oleh karenanya keberadaan anak jalanan selalu menjadi perhatian luas dari jenjang lokal sampai international. Dengan kondisi tersebut, maka jelas mereka mudah menerima berbagai masalah. Oleh aparat pemerintah dianggap pengganggu ketertiban sehingga sering dikejar-kejar terus dan dirazia, oleh masyarakat setempat atau oarng yang mengunakan jalan raya atau yang mau belanja dianggap mengganggu kenyamanan. Anak-anak yang berperilaku menyimpang dianggap tengah bersosialisasi dengan kejahatan. Stigma ini bukan saja telah memisahkan membatasi ruang gerak mereka sendiri, termasuk untuk menampilkan perilaku yang lebih baik.

Kejahatan  paedophilia

Persoalan nyata yang mereka hadapi adalah adanya eksploitasi dalam kehidupan mereka, seperti seks, pekerjaan dan kehidupan yang lebih luas. Eksploitasi ini bertingkat dari cara yang halus sampai yang sangat kasar. Sodomi, pergaulan dengan WTS, kumpul kebo, merupakan eksploitasi bersifat seks. Eksploitasi pekerjaan bersifat penghisapan upah mereka. Eksploitasi lainnya adalah sianak tinggal bersama si preman menjadi anak asuhnya dan wajib melayaninya termasuk sodomi. Laporan anak jalanan diTerminal Pulogadung juga mengatakan hampir setiap malam  mereka didatangi kaum paedofil, begitupun debgan laporan pendamping anak jalanan di tempat-tempat lain di Jakarta ini. Ada dua kekhawatiran anak-anak jalanan terhadap orang baru yang mendekati mereka. Pertama takut diajak homo, kedua takut dijual. Akibatnya, mereka selalu curiga kepada orang yang baru dikenalnya. 

Kaum paedofil biasanya datang pada malam hari ketempat-tempat yang umumnya dikenal banyak anak jalanan seperti terminal, stasiun, pasar, taman, dan kolong jembatan. Mereka biasanya mencermati mana di antara orang yang tidur itu anak-anak. Biasanya mereka langsung memegang alat Vital anak-anak jika situasi di sekitarnya tidak terlalu ramai.jika anak itu terbangun, maka dia akan menenangkan anak lalu mencoba merayu dengan cara mengajak makan, menjanjikan membeli baju baru, dan membawanya kerumah. Anak yang lama dan tahu biasanya berontak dan melawan lalau sebisa mungkin menghindarinya dengan cara lari atau memanggil teman-temannya. Tetapi anak baru datang ke jalanan, tanpa pengalaman, dan masih kecil sehingga tidak mengetahui sedang diapakan, mereka menurut dan mau diajak kerumah. Anak-anak yang diincar bukan saja yang tidur, tetapi mereka yang bekerja atau main-main di jalanan. Mereka pun dirayu dengan jenis rayuan yang sama dan dijanjikan diberikan uang. Bisa seribu rupiah, bisa sampai puluhan ribu rupiah. Mereka yang menjadi korban adalah anak-anak yang memang membutuhkan uang.

Dirumah, anak itu lalu “digarap” Biasanya mereka dimandikan dulu karena hampir semua anak jalanan bertubuh dan berpakaian kotor. Ada seorang anak yang bercerita kepada saya, bahwa setelah mandi diberi baju yang bersih, diberi makan enak, lalu disuruh tidur. Ketika malam hari dia terbangun karena si paedofil itu mengusap-usap pipi, menciuminya, lalu membelai-belai kemaluannya. Anak tersebut berontak, lalu kabur. Jika anak menerima perlakuan ini maka terjadilah sodomi. Bagi sebagian anak, dianggap memberikan keuntungan karena bisa mendatangkan uang. Oleh karenanya ada yang sengaja menjual dirinya kepada paedofil. Mereka biasanya mangkal di tempat – tempat tertentu, bahkan ada yang sudah mempunyai langganan. Perilaku ini mungkin agak sulit diubah karena sudah merupakan kesenangan mereka, apalagi kalau melakukannya sudah kurun waktu yang lama. Perilaku seks yang lain adalah dimana anak tidak saja menjadi korban, melainkan sebagai pelaku seks, artinya dengan sadar ia melakukan hubungan-hubungan seks. Hubungan seks dengan WTS atau paedofil tidak saja didasarkan pada motif seks tetapi sebagian menganggap sebagai upaya menyalurkan kasih sayang, seperti halnya anak kepada orang tuanya.  Perbedaan usia dan pengalaman tidak lagi menjadi hambatan. Sedangkan ada WTS yang percaya bahwa jika berhubungan dengan anak akan membuat awet muda. Bagi sebagian paedofil mengencani anak adalah lebih murah karena bisa dibayar seribu atau dua ribu rupiah dengan sedikit ancaman. Akibatnya dari masalah ini adalah semakin rentannya anak terhadap virus HIV/AIDS. Di Indonesia anak jalanan masih belum dianggap sebagai kelompok dengan resiko tinggi terkena HIV/AIDS, padahal di Thailand, sekitar 40% dari puluhan pelacur anak-anak yang beroperasi di jalan –jalan di Bangkok mendapat vonis  mati akibat tercemar virus HIV. Di Bombay terdapat sekitar 50.000 pekerja seks berusia di bawah 18 tahun. Di Brazil sekitar 250.000 anak terlibat prostitusi (andri,clc.1993). Siapa pun tentu tidak ingin anak jalanan di Indonesia tercemar HIV/AIDS, seperti halnya kasus 8 anak yang terlanjur mati mengenaskan. Namun apakah akhirnya akan terjadi seperti yang sudah-sudah ? Berita hanya sebatas berita, tangisan dan rasa kesal hanya sebatas emosi. Anak-anak jalanan tetap di jalanan, sendirian, menoreh-noreh nasib mempertahankan hidup, di hantui ancaman dan ketakutan. Siapa yang peduli ?

Akankah kita kembali terbiasa hanya bereaksi terhadap suatu peristiwa tanpa mampu berbuat proaksi bagi anak jalanan ini ?  (nuh)