KAJIAN TUMBUH KEMBANG ANAK USIA DINI BIDANG KESEHATAN-Kabupaten Sidoarjo

Perhatian, buka di jendela baru. PDFCetakE-mail

Kajian Di Lakukan Tahun 2010

 

Abstrak

Kajian ini dilakukan dengan tujuan utama untuk memperoleh gambaran secara menyeluruh mengenai pelaksanaan tumbuh kembang usia dini di bidang kesehatan, dan secara khusus untuk mendapatkan informasi terkait kebijakan dan sarana, mengumpulkan informasi yang relevan dengan kebijakan pengembangan Kabupaten/Kota Layak Anak (KLA), serta menyediakan rekomendasi program aksi bagi pemangku kepentingan di bidang kesehatan.

 

Untuk mencapai tujuan tersebut, maka digali sejumlah variable penelitian seperti kebijakan tumbuh kembang anak usia dini, implementasi tumbuh kembang anak usia dini, keterlibatan pihak-pihak lainnya, tingkat pemahaman para pemangku kepentingan, peran dan bentuk penyelenggaan advokasi kesehatan. Selain itu juga dilakukan analisis tentang kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman sebagai bahan pembuatan pedoman advokasi bagi peningkatan kesehatan anak usia dini.

 

Kajian ini menggunakan dua pendekatan, yakni pendekatan kuantitatif dan kualitatif untuk memperoleh gambaran pelaksanaan tumbuh kembang anak usia dini di bidang kesehatan dan mengungkap kekuatan, kelemahan, masalah dan peluang untuk meningkatkan kualitas kesehatan anak usia dini. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah penyebaran angket, focus group discussion (FGD), wawancara mendalam (in-depth) serta dokumentasi data sekunder yang berupa dokumen kebijakan, laporan tahunan, hasil penelitian, literature, kliping mass media dan observasi lapangan.

 

Hasil yang diperoleh terbagi ke dalam tujuh aspek sebagai berikut. Dalam aspek situasi kesehatan balita 2009, pada umumnya indikator kesehatan yang ada memiliki angka yang relative bagus, seperti dalam indikator AKB, AKBa dan AKI yang sama-sama lebih baik dari angka di tingkat nasional. Untuk status gizi anak, kedua daerah masih ditemukan kasus gizi buruk, meski angkanya sangat kecil dan juga langsung memperoleh penanganan yang memasai. Untuk ASI Eksklusif, kedua daerah angkanya masih termasuk rendah.

 

Dalam aspek pelayanan kesehatan dasar bagi anak usia dini, upaya yang dilakukan pada umumnya mengacu pada Strategi Pembangunan Kesehatan yang terdapat dalam visi Indonesia Sehat 2010, yang disertai dengan pelatihan bagi tenaga medis tentang imunisasi, EGG, MTBM, SDIDTK. Selain itu juga terdapat inisiatif local seperti adanya Polindes, Poskesdes, dan Derakan Desa Siaga di Kabupaten Sidoarjo. Ketersediaan fasilitas kesehatan di kedua daerah juga sudah dipandang memadai, karena keduanya sudah memiliki berbagai fasilitas kesehatan dari tingkat Rumah Sakit hingga Posyandu dengan kuantitas yang memadai dan terjangkau secara fisik dan ekonomi.

 

Dalam aspek peran dan tanggungjawab pihak-pihak yang kompeten dalam pemenuhan kesehatan anak usia dini, secara keseluruhan peran-peran pihak yang berkepentingan dalam upaya peningkatan kesehatan dasar usia 0-5 tahun telah terlihat. Sinergi antara Dinas Kesehatan, BPMPKB (kab. Sidoarjo), Kementerian Agama, Rumah sakit, Dinas Penddikan (PAUD), Dinas Sosial dan Tenaga Kerja, PU Cipta Karya dan Tata Ruang dimana masing-masing lembaga/SKPD telah berupaya mengimplementasikan perwujudan pemenuhan hak kesehatan dasar anak usia dini dalam program kerjanya sedah baik, tetapi masih perlu dioptimalkan.

 

Dalam aspek kebijakan dan program bidang kesehatan anak usia dini serta implementasinya di Kabupaten Sidoarjo sedah cukup memadai karena terdapat cukup banyak kebijakan yang terkait dengan masalah anak dan kesehatan, baik itu dalam bentuk Perda, Perbup dan Instruksi Bupati yang dikeluarkan beberapa tahun terakhir. Kebijakan-kebijakan tersebut juga sudah dijabarkan ke dalam berbagai program di bidang kesehatan dan perlindungan anak.

 

Di bidang advokasi dan sosialisasi kesehatan anak usia dini, di Kabupaten Sidoarjo, upaya penyuluhan kesehatan meliputi penyuluhan kelompok dan penyuluhan massa, promosi kesehatan melalui proses pembelajaran dari, oleh, untuk dan bersama masyarakat, sesuai dengan lingkungan sosial budaya setempat, agar masyarakat dapat menolong dirinya sendiri di bidang kesehatan. Kegiatan lainnya berupa Monik (mobil Media Informasi Keliling) untuk membuka mindset orangtua tentang bagaimana menjaga kesehatan anak serta story telling terkait masalah kesehatan anak kepada anak melalui panggung boneka.

 

Dalam aspek pemahaman para pejabat pemangku kepentingan di kedua daerah tentang kesehatan anak usia dini, khususnya dari unsur SKPD, mereka pada umumnya sudah memiliki pemahaman dan kepekaan terhadap hak anak yang cukup baik. Namun demikian, pengetahuan staf SKPD, tokoh masyarakat, peugas medis, PKK dan kader posyandu tentang ASI eksklusif, KHA, UU Perlindungan Anak serta KLA memiliki perbedaan, dimana pengetahuan tentang ASI Eksklusif paling tinggi, diikuti pengetahuan tentang KHA, UU Perlindungan Anak dan KLA.

 

Dalam aspek lingkungan kondusif menuju KLA, belum semua aspek dalam lingkungan yang kondusif tersebut bisa terpenuhi. Aspek yang sudah terpenuhi adalah komitmen politik, realisasi anggaran, serta keberadaan forum partisipasi anak. Sedangkan sosialisasi dan pengembangan wacana publik masih belum memadai. Dalam hal ini di Kabupaten Sidoarjo terdapat kegiatan ”Jaring Asmara” atau penjaringan aspirasi masyarakat untuk menyusun kebijakan dan program