Profil Revitalisasi Posyandu

Perhatian, buka di jendela baru. PDFCetakE-mail

(Peningkatan Kualitas Kesehatan dan Status Gizi Balita melalui Pengembangan  Posyandu dan Kadernya serta Peningkatan Pengetahuan Masyarakat  di Wilayah IDT RW.07 Kelurahan Kali Baru, Cilincing, Jakarta Utara(2007-2008) 

Profil Wilayah.

"Pasar ikan" merupakan julukan yang tak asing bagi wilayah Jakarta Utara yang mayoritas pencaharian utamanya adalah nelayan. Panas dan berdebu merupakan hal yang  dijumpai saat berkunjung ke wilayah ini. Akan semakin nyata saat memasuki Kelurahan Kalibaru, Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara yang memiliki 24 RW dan masing-masing RW memiliki sekitar 15 RT dan berpenduduk sekitar 1500-2000 KK.

Dengan kepadatan penduduk ini, pertanyaan yang muncul adalah bagaimana kondisi perkembangan dan pertumbuhan  balita? Konsentrasi program ini adalah di RW 07 yang memiliki 15 RT dan 1200 balita per Januari 2007 (YKAI, 2007). Ironisnya, data ini tidak terekam oleh posyandu maupun puskesmas dan menunjukkan lemahnya peran posyandu di tengah-tengah masyarakat.  Dari data 630 balita yang teridentifikasi ditemukan sekitar 250 balita dengan status gizi kurang dan gizi buruk (YKAI, 2007). Sementara data yang tidak teridentifikasi menunjukkan lemahnya peran posyandu dan rendahnya pengetahuan masyarakat terhadap peran posyandu. Penekanan pentingnya program ini adalah peluang besar terjadinya peningkatan jumlah balita dengan indikasi status gizi kurang sampai buruk akibat kekurangan kalori protein atau yang disebut dengan "busung lapar." Bahkan, indikasi balita dengan status gizi baik bisa mengarah pada status gizi kurang maupun buruk jika kondisi ini tetap diabaikan.

Data kesehatan balita di wilayah RW 07 ini juga menunjukkan prevalensi penyakit yang sangat signifikan, yaitu ISPA, batuk pilek, gangguan kulit, cacingan, dan hilang nafsu makan. Sanitasi lingkungan di wilayah ini mendukung kondisi kesehatan balita, yaitu penduduk yang sangat padat, tata letak rumah yang tidak teratur, pemukiman yang tidak layak huni  (tidak mendapatkan sinar matahari, ventilasi kurang, tanpa MCK pribadi , lantai tanah), dan jauh dari lingkungan bersih.

Kondisi ini semakin mengkhawatirkan dengan tingginya jumlah keluarga dengan keterbatasan pengetahuan dan pendidikan, kemiskinan dan keterbatasan akan asupan makanan yang sehat bagi balita, serta akses layanan posyandu maupun kesehatan yang tidak memadai dan tidak mampu menjangkau seluruh masyarakat. Posyandu sebagai unit pemantau tumbuh kembang balita tidak menjawab kebutuhan balita atas kesehatan karena hanya terdapat 2 posyandu dengan 8 kader yang tidak semuanya aktif, dan harus melayani sekitar 1.200 balita. Keterbatasan kader posyandu yang terampil, keterbatasan sarana dan prasarana posyandu, serta  kurangnya sinergisitas puskesmas, posyandu, masyarakat, dan pemerintah setempat.

Menyikapi kebutuhan akan peningkatan kualitas kesehatan dan status gizi balita di wilayah RW 07 ini, Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia (YKAI) bersama PT Johnson & Johnson Indonesia memandang Revitalisasi Posyandu sebagai strategi pelayanan kesehatan dasar masyarakat dengan fokus pada ibu dan anak.

Strategi Revitalisasi Posyandu.

Pelaksanaan Revitalisasi Posyandu bertujuan untuk meningkatkan peran posyandu sebagai wadah pelayanan kesehatan dasar berbasis masyarakat, dengan penekanan pada bentuk :

v Intervensi : Pengelolaan posyandu yang dikelola oleh unsur masyarakat / kelompok masyarakat yang mempunyai minat dan misi yang jelas.

v Kemandirian : Peningkatan kemampuan setiap keluarga dalam memaksimalkan potensi pengembangan kualitas SDM. 

Strategi Program.

Pencapaian pelaksanaan Revitalisasi Posyandu dilakukan melalui serangkaian program :

REVITALISASI POSYANDU :

Upaya pemenuhan kesehatan dasar balita dan peningkatan status gizi berbasis masyarakat.Intervensi yang dilakukan :

1. Penyediaan Sarana & Prasarana Posyandu.

2. Peningkatan Kapasitas Kader Posyandu.

3. Peningkatan Pengetahuan Ibu.

4. Membangun Kemitraan Masyarakat untuk Meningkatkan Peran Pelayanan Posyandu. 

PELAYANAN KESEHATAN  DASAR :

Upaya peningkatan kualitas kesehatan balita dan ibu hamil.

Intervensi yang dilakukan:

1. Pemeriksaan Kesehatan Balita.

2. Pemeriksaan Kesehatan Ibu. 

3. Peningkatan Sistem Rujukan. 

PEMBERIAN MAKANAN TAMBAHAN :

Upaya pemenuhan energi dan zat gizi untuk pertumbuhan anak. 

Sebanyak  900 balita setiap minggu mendapatkan makanan tambahan dan 30% balita dengan status gizi kurang dan buruk dari 900 balita mendapatkan intervensi khusus dengan pemberian makanan tambahan 3X seminggu. Menu makanan sehat disusun, diolah dan disajikan oleh para kader posyandu serta disesuaikan dengan menu kesukaan balita di wilayah RW 07 Kelurahan Kalibaru, Cilincing, Jakarta Utara.

Makan bersama diantara para balita menjadi kegiatan menyenangkan bagi balita. Di lain sisi, balita-balita ini juga mendapatkan pengalaman makan dari balita lainnya yang secara tidak langsung mendapatkan contoh perilaku makan yang baik.Kegiatan penimbangan dan pengukuran untuk melihat status gizi balita dilakukan setiap sekali sebulan saat gebyar posyandu atau kegiatan pemeriksaan kesehatan balita.

Integrasi pelaksanaan kegiatan Revitalisasi Posyandu menunjukkan peningkatan status gizi balita sejak Mei 2007 – Desember 2007, dimana  indeks status BB/U menunjukkan peningkatan jumlah balita status gizi normal dari  33,8% menjadi 40,7% dan penurunan jumlah balita status gizi buruk dari 4,6% menjadi 3,8%.

 

 

 

Penutup:

Serangkaian kegiatan ini tidaklah mudah untuk dilakukan, mengingat kemajemukan masyarakat dan rendahnya kondisi sosial ekonominya. YKAI dengan dukungan PT Johnson & Johnson Indonesia melakukan upaya menyelamatkan anak bangsa melalui “Program Revitalisasi Posyandu Dan Peningkatan Kualitas Kesehatan Balita” di wilayah RW 07, Kelurahan Kalibaru, Cilincing, Jakarta Utara.