Hamid Patilima Doktor ke 1923 Universitas Negeri Jakarta

Perhatian, buka di jendela baru. PDFCetakE-mail

 

Pendidik Pos PAUD sudah melakukan upaya untuk membangun resiliensi anak pada aspek keamanan dasar, pendidikan, persahabatan, minat dan bakat, nilai positif, dan kompetensi sosial, meskipun mereka perlu penguasaan teori perkembangan anak dan cara mendidik dalam pengasuhan, perawatan, dan perlindungan anak. Hal ini disampaikan oleh Promovendus Hamid Patilima pada Promosi Doktor yang dipimpin oleh Rektor Universitas Negeri Jakarta, Prof. Dr. Bedjo Sujanto, M.Pd., di Gedung Rektorat UNJ.

 

Hamid Patilima merupakan salah satu Karyawan YKAI, dipromotori oleh Prof. Dr. Soegeng Santoso, M.Pd. dan Prof. Dr. Mulyono Abdurrahman berhasil mempertahankan disertasinya dengan nilai akhir 3,78 dengan penguji Prof. Dr. dr. Myrnawati Crie Handini, MS., PKK, Guru Besar Tetap Universitas Negeri Jakarta, Prof. Dr. Yufiarti,  Guru Besar Tetap Universitas Negeri Jakarta, dan Prof. Dr. H. Syamsul Bachri Thalib, M.Si, Guru Besar Tetap Universitas Negeri Makassar.

Yang turut hadir dalam ujian terbuka antara lain Prof. Lily I. Rilantono sebagai Ketua Umum Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia dan Sumarni Dawamraharjo, Mantan Deputi Perlindungan Anak Kementerian Pemberdayaan Perempuan.

 

Hamid dalam paparannya menyebutkan bahwa “Ada anak-anak di Pos PAUD yang tinggal bersama orang tua yang suka melakukan kekerasan. Orang tua ini biasanya membatasi dan menghalang-halangi anak-anak mereka bermain dengan teman-temannya.” Mereka khawatir anaknya akan mengikuti perilaku buruk atau tindakan kasar teman-temannya, seperti perkataan kasar dan kotor. Ada pula anak lain yang mengalami perlakuan kasar, diejek, dan menerima bullying dari teman sebaya ataupun orang dewasa di lingkungan tempat tinggal, tempat bermain, dan tempat belajarnya. Keadaan seperti ini cenderung membuat anak merasa tertekan, tidak aman dan nyaman.

Meskipun berada dalam situasi yang kurang menguntungkan, anak-anak ini tetap memiliki resiliensi. Mereka memiliki kemampuan menghadapi kerentanan, sehingga mereka siap menyesuaikan diri. Hal ini karena anak-anak mengikuti Pos PAUD yang memiliki Kader PKK sebagai pendidik yang berupaya memberikan pelayanan kepada anak, baik secara sadar maupun hanya mengikuti intuisi keibuan saja.

Apakah pengalaman anak dan peran pendidik (kader PKK) akan melemahkan atau memperkuat anak, tergantung pada resiliensi anak, yaitu suatu proses pendampingan oleh pendidik Pos PAUD untuk mempersiapkan anak usia dini agar mampu menghadapi kerentanan dan tantangan, terhindar dari kemunduran, sehingga sukses dalam segala bidang kehidupan di masa depan.”

 

Metodologi Penelitian

Penelitian bertujuan untuk memperoleh gambaran mengenai peran pendidik dalam membangun  resiliensi anak pada aspek keamanan dasar, pendidikan, persahabatan, minat dan bakat, nilai positif, dan kompetensi sosial dengan studi kasus di Kelas B Pos PAUD Melati – Pamulang Barat, Pamulang, Tangerang Selatan, Banten.

Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan desain studi kasus yang mengikuti Alur Penelitian Maju Bertahap Spradley. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah pengamatan, wawancara kualitatif, diskusi kelompok terfokus, dan menggambar. Untuk memastikan keabsahannya, data akan melalui kredibilitas, transferabilitas, dependabilitas, komfirmabilitas, dan trianggulasi.

Temuan Penelitian

Hasil analisis, peneliti menemukan peran pendidik dalam membangun resiliensi anak. Setiap hasil temuan selanjutnya dibahas dengan menggunakan teori dan pendapat para ahli lainnya yang kemudian menyimpulkan bahwa pendidik berupaya untuk membangun resiliensi anak pada aspek keamanan dasar, pendidikan, persahabatan, minat dan bakat, nilai positif, dan kompetensi sosial, meskipun mereka perlu penguasaan teori perkembangan anak dan cara mendidik dalam pengasuhan, perawatan, dan perlindungan anak.

“Agar setiap anak memiliki resiliensi sejak dini dalam menyesuaikan diri dengan tantangan yang ada pada saat ini dan masa datang, maka orang tua, pendidik, masyarakat, serta pemerintah perlu sejak awal memperkenalkan dan menjadikan resiliensi anak yang terdiri 6 (enam) aspek, sebagai kompetensi dasar yang perlu dicapai oleh setiap anak di Pos PAUD Melati,” harapan Hamid.